pola asuh otoriter

Pola Asuh Otoriter dan Dampaknya pada Si Kecil

Ditulis Oleh : Morinaga Chilgo

Diterbitkan: 9 Juli 2024

Pola asuh otoriter sering membuat Bunda bertanya-tanya, apakah ini baik untuk Si Kecil? Meskipun terlihat memberi disiplin ketat, gaya ini bisa membuat anak yang sering sakit-sakitan atau tubuhnya kecil merasa tertekan. 

Si Kecil mungkin jadi takut berekspresi, kurang percaya diri, dan sulit membuat keputusan sendiri. Pola asuh yang terlalu keras bisa menghambat perkembangan mental dan emosional anak, membuatnya cemas dan tidak mandiri.

Apa Itu Pola Asuh Otoriter?

Pola asuh otoriter seringkali dipilih oleh orang tua yang ingin memastikan anak mereka disiplin dan patuh. Namun, pendekatan ini menempatkan kontrol yang sangat tinggi dengan tingkat respons emosional yang rendah. 

Bunda mungkin khawatir melihat Si Kecil yang kurang berani mengambil inisiatif atau terlihat takut melakukan kesalahan, pola asuh ini bisa memperparah situasi tersebut. Anak yang tumbuh dalam lingkungan otoriter sering merasa tertekan dan kehilangan kepercayaan diri karena tidak terbiasa diajak berdiskusi atau diberikan ruang untuk bereksplorasi.

Meskipun tujuan utama pola asuh otoriter adalah menanamkan tanggung jawab dan disiplin, terlalu banyak tekanan bisa berdampak negatif pada perkembangan mental Si Kecil. Sikap tegas yang disertai dengan hukuman keras sering mengabaikan kebutuhan emosional anak, yang sangat penting bagi pertumbuhan psikologisnya.

Pada akhirnya, meskipun disiplin penting, Bunda perlu mempertimbangkan pendekatan yang lebih seimbang agar Si Kecil dapat tumbuh dengan rasa percaya diri dan kemandirian yang sehat.

Karakteristik Pola Asuh Otoriter

Agar lebih paham, di bawah ini ciri-ciri orangtua dengan pola asuh otoriter menurut Klikdokter.

Membuat Peraturan yang Ketat Tanpa Ruang Negosiasi

Ciri utama orangtua otoriter adalah suka membuat peraturan yang sangat ketat untuk anaknya. Peraturan yang dibuat tidak hanya satu, melainkan sangat banyak. Orangtua otoriter berharap semua peraturan tersebut dipatuhi oleh anak.

Contohnya, setiap malam, anak-anak harus menyelesaikan pekerjaan rumah mereka sebelum jam 7 malam dan tidur tepat pada jam 8 malam. Mereka tidak diizinkan menonton televisi atau bermain video game pada hari sekolah. Bahkan saat akhir pekan, mereka hanya diizinkan bermain selama satu jam.

Selain itu, setiap kesalahan kecil, seperti tidak merapikan tempat tidur atau tidak meletakkan sepatu di rak, akan dikenakan konsekuensi seperti kehilangan waktu bermain.

Menolak Masukan dan Pendapat Anak

Ciri-ciri orangtua dengan pola asuh otoriter umumnya adalah tidak mau menerima masukan dari anak. Bagi mereka, opini atau pendapat anak tidaklah penting dan lebih baik dari pendapat orang tua. 

Misalnya seorang anak merasa bahwa dia bisa belajar lebih efektif jika mendengarkan musik dengan volume rendah, namun orang tuanya tidak mau mendengar alasan tersebut dan tetap memaksa untuk belajar dalam keheningan total. Ketika anak mengusulkan perubahan jadwal atau meminta sedikit fleksibilitas dalam rutinitas sehari-hari, orang tua langsung menolak tanpa mempertimbangkan atau mendengarkan alasanya.

Fokus pada Hukuman Daripada Dukungan

Berikutnya, ciri-ciri orangtua dengan pola asuh otoriter ini adalah memberikan hukuman keras saat aturan yang diberikan tidak berhasil dilakukan atau dipatuhi. Contohnya, seorang anak yang mendapat nilai buruk pada ujian dihukum dengan cara disuruh berdiri di sudut ruangan selama satu jam setiap malam selama seminggu.

Selain itu, semua hak istimewanya seperti menonton televisi, bermain dengan teman, atau menggunakan perangkat elektronik dicabut selama sebulan penuh. Orang tua tidak memberikan kesempatan untuk menjelaskan atau memperbaiki kesalahannya dengan cara yang lebih konstruktif.

Minimnya Kepercayaan Terhadap Anak

Daripada membiarkan anak membuat keputusan sendiri dan menghadapi konsekuensi dari pilihan yang telah dibuat, orangtua dengan pola asuh otoriter lebih memilih untuk mendikte dan memastikan bahwa anak tidak membuat kesalahan sama sekali.

Misalnya setiap kali anak mengatakan sesuatu, orang tua cenderung tidak percaya dan selalu memverifikasi ulang dengan guru, teman, atau bahkan memeriksa telepon anak. Ketika anak berjanji untuk pulang tepat waktu setelah sekolah, orang tua tetap datang untuk menjemput karena tidak percaya anak bisa mematuhi aturan tersebut.

Tidak Menunjukkan Empati atau Kehangatan

Orangtua dengan pola asuh otoriter cenderung kurang menunjukkan empati atau kehangatan. Bunda mungkin lebih fokus pada aturan ketat dan disiplin tanpa mempertimbangkan perasaan Si Kecil. Sikap dingin dan kasar, seperti sering mengomel atau meneriaki anak, bisa membuatnya merasa diabaikan secara emosional.

Alih-alih mendengarkan keluh kesahnya, orangtua hanya menekankan ketaatan. Beberapa bahkan menggunakan penghinaan di depan umum dengan harapan memotivasi Si Kecil. Pendekatan ini justru dapat merusak harga diri anak dan menjauhkan mereka dari hubungan emosional yang sehat.

Dampak Pola Asuh Otoriter pada Si Kecil

Penelitian menunjukkan bahwa pola asuh otoriter sering kali berhubungan dengan dampak negatif pada perkembangan anak, terutama dalam hal keterampilan sosial, kepercayaan diri, dan kesehatan mental.

Meskipun tujuannya adalah untuk mendisiplinkan, pengasuhan yang terlalu kaku dapat membuat Si Kecil merasa terbatas dan kesulitan mengekspresikan diri.

Dampak pada Kesehatan Mental dan Emosi Anak

Ketika aturan diterapkan tanpa ruang diskusi, Si Kecil cenderung merasa tertekan dan tidak memiliki tempat untuk mengekspresikan perasaannya. 

Ini sering kali menyebabkan kecemasan dan perasaan terisolasi, yang pada akhirnya dapat berdampak negatif pada kesejahteraan mentalnya. Anak yang tumbuh dalam lingkungan otoriter lebih rentan terhadap depresi dan rasa tidak aman.

Pengaruh Terhadap Kepercayaan Diri dan Kemandirian Anak

Pola asuh yang mengutamakan kontrol ketat membuat Si Kecil sulit untuk mengembangkan kemandirian. Ketika semua keputusan diambil oleh orang tua tanpa melibatkan anak, ia kehilangan kesempatan untuk belajar berpikir sendiri dan mengambil inisiatif. 

Kurangnya kepercayaan diri ini dapat menghambat perkembangan kemampuan Si Kecil dalam menghadapi tantangan sehari-hari.

Risiko Terhadap Hubungan Sosial Anak

Si Kecil yang dibesarkan dalam pola asuh otoriter sering kali mengalami kesulitan dalam membangun hubungan sosial. Ketakutan akan salah langkah atau menghadapi hukuman membuatnya enggan untuk bersosialisasi atau mengambil risiko dalam interaksi dengan teman sebaya. 

Hal ini bisa menyebabkan Si Kecil menjadi tertutup dan canggung dalam pergaulan, serta sulit menjalin hubungan yang sehat.

Dampak pada Perkembangan Kognitif dan Akademis

Disiplin yang terlalu ketat dapat menghambat kreativitas dan semangat belajar Si Kecil. Anak-anak yang takut membuat kesalahan cenderung ragu-ragu untuk mencoba hal baru atau berpikir kreatif. 

Akibatnya, perkembangan akademis dan kognitif mereka bisa terhambat karena takut akan kegagalan dan ketidakpercayaan pada kemampuan diri sendiri.

Cara Mengatasi dan Mengubah Pola Asuh Otoriter

Mengubah pola asuh otoriter memerlukan langkah-langkah yang lebih terbuka dan responsif untuk mendukung perkembangan Si Kecil secara emosional dan mental. Dengan pendekatan yang lebih seimbang, Bunda bisa membantu Si Kecil tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan percaya diri.

Meningkatkan Komunikasi Dua Arah dengan Anak

Mulailah dengan membuka ruang komunikasi yang lebih dialogis. Ajak Si Kecil untuk berbicara dan terlibat dalam pengambilan keputusan sehari-hari, seperti menentukan kegiatan atau rutinitas. 

Komunikasi yang melibatkan anak tidak hanya membuatnya merasa dihargai, tetapi juga mengajarkannya untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan berkomunikasi yang lebih baik.

Memperbaiki Hubungan Emosional dengan Anak

Hubungan emosional yang kuat adalah fondasi penting dalam pola asuh yang sehat. Tunjukkan lebih banyak kehangatan kepada Si Kecil, baik melalui sentuhan fisik seperti pelukan maupun dengan mendengarkan ceritanya setiap hari. 

Ini akan membuat anak merasa lebih nyaman dan aman dalam mengekspresikan perasaannya, yang pada akhirnya akan memperkuat rasa percaya dirinya.

Menggantikan Hukuman dengan Pendekatan Positif

Alih-alih menggunakan hukuman keras, cobalah untuk menggantinya dengan pendekatan positif. Misalnya, saat Si Kecil tidak mengikuti aturan, berikan penjelasan tentang konsekuensi dari tindakannya dan bagaimana ia bisa memperbaikinya. 

Puji setiap kemajuan atau perilaku baiknya, karena penguatan positif lebih efektif dalam membentuk perilaku yang diinginkan dibandingkan dengan ancaman atau hukuman.

Menghargai Pendapat dan Perasaan Anak

Bunda, selalu hargai perasaan dan pendapat Si Kecil, bahkan ketika berbeda dari pandangan Bunda. Dengarkan dengan penuh perhatian, agar Si Kecil merasa penting dan dihargai. Ini tidak hanya membangun rasa percaya diri, tetapi juga mengurangi tekanan yang mungkin muncul dari pola asuh yang terlalu ketat. 

Dengan memberikan ruang bagi anak untuk berbicara, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan berani menyuarakan pikirannya. Pendekatan yang lebih hangat dan suportif akan membantu Si Kecil berkembang dengan lebih baik, baik secara emosional maupun sosial. Ingin tahu lebih lanjut tentang pentingnya kecerdasan emosional? Yuk ketahui pentingnya kecerdasan emosional disini Seberapa Penting Membangun Kecerdasan Emosional pada Anak?

Referensi:

  • Klikdokter. Mengenal Ciri-Ciri Orangtua dengan Pola Asuh Otoriter. Diakses pada 16 Mei 2024. https://www.klikdokter.com/ibu-anak/tips-parenting/mengenal-ciri-ciri-orangtua-dengan-pola-asuh-otoriter 
  • Healthline. Authoritarian Parenting: The Right Way To Raise My Kids? Diakses pada 16 Mei 2024. https://www.healthline.com/health/parenting/authoritarian-parenting 
  • Parents. Authoritarian Parenting: The Pros and Cons, According to Child Psychologists. Diakses pada 16 Mei 2024. https://www.parents.com/parenting/better-parenting/style/authoritarian-parenting-the-pros-and-cons-according-to-a-child-psychologist/ 
  • Authoritarian parenting style. (2017, January 19). MSU Extension. Diakses 20 Agustus 2024. https://www.canr.msu.edu/news/authoritarian_parenting_style
  • Types of parenting styles and effects on children – StatPearls – NCBI bookshelf. (2022, March 9). National Center for Biotechnology Information. Diakses 20 Agustus 2024. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK568743/
  • The Influence of Authoritarian Parenting on the Development of Early Childhood Creativity. Diakses 20 Agustus 2024. http://dx.doi.org/10.23960/jpp.v10.i2.202011
  • Oak Park Unified School District / Overview. Diakses 20 Agustus 2024. https://www.oakparkusd.org/cms/lib/CA01000794/Centricity/Domain/1026/Authoritarian%20parenting.pdf